Kamis, 07 Januari 2016

Mengenang Nasihat Ayah Buya Hamka

Pada suatu sore, Ayah kedatangan tamu dua orang perempuan. Rupanya mereka adalah Ibu dan Anak. Si anak perempuan yang masih muda menyampaikan masalahnya kepada Ayah. Ia ingin meminta cerai kepada suaminya.
Perempuan muda itu bercerita bahwa ia sudah membina keluarga dengan suaminya selama sembilan tahun. Mereka telah dikaruniai 5 orang anak. 4 bulan yang lalu, suaminya minta izin untuk beristri lagi. Kontan kedamaian selama 9 tahun mulai terusik. Pertengkaran mulai mewarnai kehiduan mereka.

Sudah 2 bulan ini suaminya jarang pulang, kalaupun pulang itu hanya sebentar sekedar untuk meyerahkan biaya hidup dan biaya sekolah anak - anak. Belakangan perempuan muda yang tengah bersedih ini mendapat kabar yang mengejutkan hati... suaminya telah menikah sirih dengan teman sekantornya... :(

“saya ingin mendapatkan nasihat & bimbingan dari Buya Hamka yang telah lama saya kenal dari Kuliah Subuh RRI & Mimbar Jum’at di TVRI... “Perempuan muda itu menyampaikan maksudnya”.
Saat itu, Ayah yang sempat tercenung beberapa saat, lantas bertanya kepada perempuan muda tersebut.

“Ananda Sholat?”

Perempuan Menjawab : “Sholat Buya. Malah tidak pernah tertinggal shalat Dhuha, Shalat malam, dan puasa senin - kami,”

“Suami Anda sholat?” kembali Buya bertanya

“selama ini kami menjalankannya bersama-sama,” sambung sang perempuan muda.

“Apa alasan Ananda berkeinginan untuk bercerai? sudahkah dipertimbangkan masak-masak?” Buya melanjutkan pertanyaannya.

Perempuan muda yang berniat meminta cerai dari suaminya itu sambil menahan tangis bercerita kepada Buya Hamka.

“Kami sama sama berasal dari Tanah Pasundan, Kamui menikah karena sama sama saling menyukai dan satu iman. Dari mulai berkeluarga sampai sembilan tahun usia pernikahan kami & memiliki 5 orang anak saat ini... maaf Buya, aktivitas seks suami saya tidak pernah berkurang. Sebagai seorang istri & berprofesi seorang guru, saya tidak bisa mengimbangi hasrat suami saya tersebut. Malah bertambah tambah saja semangatnya. Karena kondisi, saya jadi sering menolak keinginan suami saya dengan berbagai alasan, seperti lelah, capai, dan sibuk. Karena sering menolak keinginannya. kami jadi sering bertengkar. Klimaksnya suami saya minta izin untuk menikah lagi. Bahkan sudah dua bulan ini suami saya sering tidak pulang. Terakhir saya mendengar, suami saya diam diam telah menikah lagi.” Perempuan itu menuturkan ceritanya dengan suara terbata dan wajah agak menunduk. Mungkin ia malu menatap wajah Buya Hamka (Ayah).

“itu sebabnya saya ingin minta cerai saja, Buya”

Setelah Ayah mempersilahkan kedua tamunya minum, Ayah mulai memberi wejangannya.
“Ananda tahu, perceraian adalah suatu perbuatan halal yang tidak disukai Allah. Perceraian bukan saja perbuatan yang menyebabkan berpisahnya dua orang suami istri tetapi juga merusak hubungan kedua keluarga. Membuat anak anak kehilangan pegangan. Ada dua macam pribadi seorang laki laki yang memiliki kelebihan bakat alam seperti suami Ananda. Pertama. Laki laki beriman. laki laki ini takut kepada Allah. Dia pun takut kehilangan istrinya, seperti Ananda ini, Dia sayang kepada keluarganya. Dia takut rusak rumah tangganya. Sementara, istrinya tidak mau dimadu. Jalan pintas yang dilakukan laki laki untuk menyalurkan biologis yang susah ditahannya adalah dengan cara menikahi perempuan lain secara diam - diam alias nikah di luar sepengetahuan istrinya; nikah siri atau di bawah tangan. Menikah dengan cara ini halal, tidak dimurkai oleh Allah. dan yang Kedua adalah laki laki yang tidak takut kepada Allah, apalagi kepada istrinya. Dia akan berbuat semaunya termasuk berzina. Malah bila tidak dapat menahan dan mengendalikan hasratnya, bisa melakukan perkosaan sebagai pelampiasannya”

“Lalu bagaimana terhadap seorang istri? sama. ada istri yang tidak takut kepada Allah, juga kepada suaminya. Istri yang tidak takut kepada Allah ini melarang suaminya untuk menikah lagi. Dia memberi peluang kepada si suami untuk berbuat sekehendak hatinya di luar rumah. Malah bila ada kesempatan, dapat pula dia berbuat seperti yang dilakukan oleh si suami., berzina”

“Singkatnya, istri yang memberi peluang kepada suaminya untuk berzina, dosanya sama dengan perbuatan suaminya. Seorang istri yang memunggungi si suami ketika tidur, dapat laknat dari Allah. Begitu pula bila suami tidak mengizinkan si istri keluar rumah dan istri dilarang suaminya menjalankan puasa sunah, dia harus patuh kepada larangan suaminya tersebut. Kepada laki laki di perintahkan Allah untuk menikah satu, dua, tiga, dan empat dengan syarat berlaku adil. Namun bila tidak sanggup berlaku adil, sebaiknya satu saja. Al-Qur’an surah An-Nissa ayat 3.

“Hanya ini yang bisa Buya sampakan kepada Ananda. Buya dilarang oleh agama untuk menganjurkan Ananda meminta cerai kepada suami. Dan Buya pun tidak berhak menganjurkan Ananda untuk bersabar saja. Keputusan ada di tangan Ananda sendiri. Semua tergantung akan tinggi rendahnya iman seseorang kepada Allah, Sekian ya?!” Ayah mengakhiri nasihatnya.

Kedua perempuan itu tak berapa lama kemudian meninggalkan rumah Ayah.
4 bulan kemudian, perempuan muda yang tak pernah meminta nasihat kepada Ayah itu datang kembali kerumah menemui Ayah. Perempuan itu datang dengan seorang laki laki yang sebaya dengannya, diiringi oleh lima orang anak anak yang hampir sebaya semuanya.

Ayah menemui mereka di ruang tamu. Mereka semua bersalaman dengan Ayah sambil mencium tangan Ayah. Si perempuan memperkenalkan laki - laki di sampingnya sebagai suaminya serta kelima anak anak mereka.

Di akhir silaturahminya, si perempuan berkata kepada Ayah, “Buya saya lebih takut kepada Allah daripada takut dimadu”.

Oke teman teman para pembaca. dapat disimpulkan betapa bijaknya nasihat seorang Ayah (Buya Hamka) tatkala memberikan nasihat kepada sesamanya. Hidup di Dunia ini hanya sementara... Jikalau para istri zaman kini sadar bahwa dengan ikhlas terhadap segala biduk rumah tangganya maka itu adalah salah satu tiket para istri untuk Syurga di akhirat nanti... Semoga segala sesuatunya dapat dilihat dari sudut pandang yang baik dan positif. Amin Allahumma Amin. :)

Sumber :
Ayah, Kisah Buya Hamka.. Masa muda, Dewasa, Menjadi Ulama, Sastrawan, Politisi, Kepala Rumah Tangga, Sampai ajal menjemputnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar