Sabtu, 23 April 2011

Nasihat Abunawas

Imam Abunawas adalah seorang Waliyullah yang hidup pada zaman khalifah Harun Al-Rasyid. Pada suatu pagi Abunawas berdiri di hadapan masyarakat, lalu berkata kencang dan lantang, “Dengan ini kuumumkan bahwa aku, Abunawas adalah orang yang benci pada perkara yang haq, sangat suka pada fitnah, dan dalam beberapa tahun ini aku lebih kaya daripada Tuhan”.

Masyarakat gempar sampai akhirnya Abunawas ditangkap oleh punggawal khalifah karena dinilai membahayakan keutuhan akidah. Ia segera dihadapkan langsung kepada Khalifah Harun Al-Rasyid.

Khalifah bertanya, “Apa betul tuan mengatakan sangat benci pada yang haq?”

“Betul”, Jawab Abunawas dengan tenang. “Malah bukan saya, baginda khalifah juga sama”, celotehannya lagi.

“Aku benci pada yang haq? Buktikan tuduhan tuan yang keji itu”, hardik Harun AL-Rasyid yang sudah naik pitam. Untung ia masih mampu menahan diri.

Abunawas menjelaskan, “Bukankah baginda yakin bahwa kematian dan neraka adalah harq ? Dan sebagaimana saya juga, baginda sangat benci kepada kematian dan neraka?”

Khalifah terdiam sebentar mengakui kebenaran Abunawas. Lalu ia membentak, “tapi jangan katakana bahwa tuan amat suka pada fitnah. Itu merusak ketentraman masyarakat”.

“Sekali lagi, saya wajib katakana yang sebenar”nya, bahwa yang menyenangi fitnah bukan hanya saya, baginda juga”, sahut Abunawas.

“Hah ? Aku menyukai fitnah ? ini sudah keterlaluan”, damprat khalifah.

“izinkan saya menjelaskan kenyataan ini. Tidakkah Allah mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa harta dan anak adalah fitnah ? Bukankah baginda amat suka kepada harta dan anak ?”

Lagi-lagi Harun Al-Rasyid terpojok. Ia kemudian menegur, “Baiklah, hal itu kuakui kebenarannya. Namun lancang sekali, malah bisa murtad kalau tuan menyombongkan diri lebih kaya dari Tuhan. Tuan adalah ulama besar, tidak sepatutnya berkata begitu. Tuan bisa dihukum mati”.

“Sabarlah baginda, perhatikan penjelasan saya”, jawab Abunawas dengan tenang. “Saya katakana lebih kaya dari Tuhan karena ada buktinya. Saya memiliki banyak anak, tapi Tuhan tidak memiliki anak seorangpun. Bukankah saya lebih kaya daripada Tuhan ?”.

Terpaksa khalifah tersenyum, lantas bertanya. “Jadi apa maksud tuan mengatakan hal – hal itu yang menghebohkan tadi ?”.

“Maksud saya hanya untuk mengingatkan baginda agar selalu ingat mati dan siksa neraka, agar tidak terpukau oleh harta dan keluarga, dan agar baginda tidak berhenti memberikan pengertian kepada rakyat tentang keesaan Allah SWT,” jawab Abunawas.

Mendengar penjelasan Abunawas, Harun Al-Rasyid terdiam sambil termangu mendapatkan nasihat yang sangat berharga tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar