Rabu, 20 April 2011

Tuntunan Islami Bertaubat

Allah menyukai orang orang yang bertaubat. Tetapi ternyata tidak mudah untuk melakukannya. Kerap kali seseorang bertaubat, namun tetap mengulang kemaksiatan yang sama. Berikut tuntuna agar taubat diterima Allah SWT.

Akhir – akhir ini begitu banyak bencana yang dialami oleh umat manusia. Tidak hanya di Indonesia, dibelahan Duinia pun banyak bencana alam yang ditemui. Mulai dari gempa bumi, tsunami, badai salju, banjir bandang, longsor, serangan hama, dan sebagainya. Bencana alam dapat diartikan sebagai ujian bagi umat manusia, agar lebih kuat sehingga dapat menerima hikmah dari kejadian, sehingga dapat hidup lebih maju. Namun bencana alam juga dapat diartikan sebagai peringatan serta azab dari Tuhan. Sebagai manusia tentunya harus mawas diri, salah satunya dengan melakukan taubat bersama. Karena pertobatan dapat dilakukan kapanpun dan oleh siapapun. Namun, jangan sampai taubat yang dilakukan hanya sekedar berhenti di bibir, tetapi harus benar – benar dilakukan dengan sungguh – sungguh. “ Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang – orang yang taubat dan menyukai orang – orang yang mensucikan diri.” (Qs Al Baqarah: 222). “Hai hamba – hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs Az-Zumar: 53). Ayat ini membuktikan pintu dengan seluas – luasya bagi seluruh orang yag berdosa dan melakukan kesalahan.

SYARAT TAUBAT

Namun, tidak semua tobat dapat diterima oleh Allah. Karena hanya taubat nasuha yang diterima. Agar mencapai taubat nasuha ada syarat yang harus dipenuhi. Pertama, menyesal. Harus menyesali semua perbuatan maksiat yang pernah dilakukan. Penyesalan harus benar – benar datang dari relung hati terdalam, dengan sebuah kesadaran yang sempurna.

Kedua, memohon ampun kepada Allah. Setelah menyesali perbuatan harus disertai meminta ampun kepada Allah SWT. Dengan mengucapkan istighfar sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Adam As dan Nabi Yunus As di dalam Al-Qur’an. Ungkapan sedih, derai air mata, dan menggigilnya perasaan adalah ekspresi dari penyesalan yang mendalam.

Ketiga, tidak mengulangi. Tidak sekadar berbuat dosa, berpikir kea rah sana saja tidak boleh.

Keempat, lebih baik. Tidak cukup menghindari dan meninggalkan perbuatan maksiat, tetapi harus dapat mengganti dengan perbuatan atau amalan yang lebih baik. Misalnya shalat 5 waktu sudah dikerjakan dengan tepat, ditambah dengan peningkatan lebih khusyuk dan tumakninah. Seperti penjelasan surah An-Nahl ayat 119.

KEUTAMAAN

Jangan pernah malu atau takut bertaubat, karena Allah telah menjanjikan kebaikan untuk umatnya yang bertaubat. (Malaikat – Malaikat) yang memikul arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang – orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, makaberilah ampunan kepada orang-orang yang saleh diantara bapak – bapak mereka, dan istri – istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang – orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan?) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (Qs Ghaafir: 7-9).

TAUBAT DITERIMA

Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Muqasysyafatul Qulub, ada beberapa cirri yang menunjukkan taubat seseorang diterima, diantaranya : 1) Orang tersebut terlihat lebih bersih dan lebih terjaga dari perbuatan maksiat. Hal itu terjadi karena dia lebih bisa menahan diri. 2) Hatinya selalu lapang dan gembira. Dia merasakannya baik dalam keadaan sendiri maupun ramai. Hati orang ini dihibur oleh Allah sehingga jernih dan lapang. 3) Dia selalu bergaul dengan orang – orang yang shaleh dan mencari lingkungan yang baik pula. Orang yang sudah bertaubat, namun masih kembali ke lingkungan yang tidak baik berarti dia belum sungguh – sungguh melakukan taubat. 4) Kualitas amalnya semakin meningkat. Selain menahan diri dari perbuatan maksiat, dia juga semakin meningkatkan kualitas shalatnya, saumnya istiqamah, malamnya dihidupkan dengan Tahajud, dan sedekahnya terus meningkat. 5) Dia senantiasa menjaga lidahnya. Dia juga sangat serius dalam menata amal – amalnya. Semakin hari, kualitas amalnya semakin terus bergerak kea rah yang lebih baik. Dia memiliki kualitas pengendalian lisan dan pikiran dengan baik. Ingatannya selalu kembali kepada Allah SWT. Hal itu dilakukan secara maksimal sehingga cinta dan kerinduannya kepada Allah SWT semakin menggebu.

Ikhsan Budiarto ( sendi.ikhsan.budiarto@gmail.com )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar